Skip to content

Positif Thinking

Juni 11, 2010

“Lucu juga”…Mungkin bisa dikatakan seperti itu bila mengkonsepkan keluarga atau suatu hubungan antara dua insan yang berbeda dalam kondisi yang dinamis, tidak ada yang ditutup-tutupi ataupun dipenuhi dengan kepura-puraan. Semua terbuka ngablak dan gamblang. Suka atau nggak suka tinggal bilang dan diomongin apa adanya, itu yang mungkin sudah dilakukan oleh beberapa pasangan diluar sana maupun gw pribadi dan CALITA (calon istri tercinta)yang rencana kedepan ingin menciptakannya didalam rumah tangga gw kelak.

Kekurangan gw banyak, kekurangan dia juga banyak, tapi bukan itu yang dijadikan sebagai jurang pembeda. Bila jadi jurang pembeda, dari pertama bertemu mungkin kami nggak bakalan pernah cocok. Gw meledak – ledak, keras kepala, “sedikit” agak liar, “sedikit” agak egois, “sedikit” agak nakal dan fully expressive. Sedang dia terbentuk juga dengan sangat keras tetapi berimbang dengan kesabaran dan kebesaran hatinya (mungkin karena cinta kali yak), berpendidikan dan terbiasa menahan perasaan. Lewat banyak waktu dan cerita yang dilalui, gw sibuk dengan urusan gw dan dia juga sibuk dengan urusannya, entah kenapa Tuhan mentakdirkan gw dan dia untuk bertemu kembali setelah kurang lebih 12 tahun ngak tau kabar masing-masing.

Setelah pertemuan itu hingga saat ini hari-hari yang gw dan dia lewati penuh dengan kedinamisan (prakteknya sih belum semuanya terbuka ngablak & gamblang….bertahaplah iya nggak hehe… ) . Gw dan dia juga sudah merencanakan untuk menjadikan hubungan ini menjadi ikatan sakral dibawah ikrar suci yang terucap sebagai pasangan jiwa yang saling melengkapi dalam segalanya untuk melalui secara bersama – sama, sebagai temen berbagi seneng, suka, sedih, kecewa dan pelengkap dalam menjalani kehidupan sebagai fitrah.

Walaupun tidak terpungkiri juga sebagai dua kepala yang masing-masing mempunyai prinsip , kadang dalam mendiskusikan sesuatu hal, kamipun sering menemui kealotan dalam menyelaraskan maksud, sering beda pendapat, sering berantem juga karena jarang menemukan ketidak sesuaian. Untuk itu kami selalu berusaha untuk mengukur kestabilan kadar keegoisan kami untuk tetap berada dalam batasan – batasan yang wajar.

Ada banyak hal yang kami contradisticnction tentang pola hubungan saat ini maupun hubungan antar suami-istri kelak, banyak hal yang kami rasa tak sesuai untuk kami jalani dan banyak hal yang kami rasa harus dengan cara kami sendiri.

Saat ini dan sebelum menikah, gw mencoba untuk membiasakan diri mengunjungi dan bersilaturahmi kepada para orang tua, kerabat maupun rekan kerja untuk sekedar mengobrol yang gw anggap sebagai ladang untuk menambah ilmu dan pengalaman yang pernah mereka lalui dalam menjalani suatu hubungan didalam pernikahan. Kebanyakan nasehatnya adalah pesan untuk pintar-pintar dalam mengelola konflik, itu hal yang tak pernah bisa dihindari ataupun dipungkiri. Ada beberapa tips yang gw dapat, tetapi banyak juga yang tak sesuai dengan apa yang ingin gw jalani.

Ada satu nasehat yang selalu gw ingat saat gw ngobrol dengan salah satu rekan kerja gw, yang usianya tak lagi muda tetapi intelektualitas dan wawasanya tetap masih terjaga.
Satu pesan dari beliau yang bikin gw sempat terdiam dan berpikir, meski itu pesan yang sangat biasa,“Kalo nanti sudah menikah, berantem antara suami-istri itu hal yang lumrah dan biasa. Tapi saran saya, kalo satu saat nanti berantem, ukur kadar kemarahan masing-masing. Yang masih waras itu baiknya yang ngalah.”

Selanjutnya masih kata beliau..

“Kalaupun pada saat sudah dikaruniai anak nanti usahakan jangan pernah berantem di depan anak-anak! Nggak bagus! Kalo mau berantem, carilah tempat yang jauh dari rumah, tempat yang independen. Kalo mau berantem, berantem aja di sana. Keluarin apa-apa yang jadi ganjalan. Syaratnya nggak pake fisik, nggak saling menghina, merendahkan, salah menyalahkan apalagi ngomong kotor! Pertahankan untuk tetap saling menjaga etika”

Nasehat itu sebisa mungkin gw terapkan didalam menjalani hubungan ini dengan dia. Hampir dua tahun menjalani hubungan ini sepertinya masih bisa, syukur-syukur terus berlanjut hingga nikah nanti. Saat berantem, entah gw atau dia pasti ada yang mengalah biar konflik tak makin membesar. Adu argumen, selisih paham, mengeluarkan semua energi negatif pada saat berantem sampai kemudian masing-masing terdiam capek, karena ego kami yang bicara, bukan akal sehat.

Kami jadi mengingat-ingat lagi segala perbedaan yang ada dan komitmen untuk bersama bahwa bukan perbedaan itu yang mesti dijadikan jurang. Kami lupa bahwa tanpa sadar kami mengingkari komitmen untuk tidak saling membentuk atau dibentuk, kami hanya perlu menyelaraskannya.


* * * *
 

Tulisan untuk CALITA-KU, bulan depan kita masuk tahun ke-2 dalam menjalani hubungan ini dan semangat kita menjalaninya hingga nikah nanti tetaplah membara. Gw dan dia tak mau jadi orang lain juga meniru cara orang lain dalam menjalani suatu hubungan saat ini ataupun pada saat berumah tangga nanti, kami berkomitmen dan mengkonsepkan hubungan ini dan kehidupan rumah tangga kelak dengan cara kami sendiri.Tuhan masih sayang kita, buktinya kita masih bersama dan masih bersemangat untuk mewujudkan rencana kita. Pun bila kita nggak lagi bersama, Tuhan juga masih sayang sama kita. Bukanlah materiil yang jadi ukurannya.

“Tapi kenapa Tuhan masih belum mentakdirkan kita untuk bisa cepat mewujudkan rencana kita ya?” Sementara temen-temen seangkatan kita sudah banyak yang menikah bahkan anaknya sudah ada yang 2 bahkan 3.

He he he… pikiran dangkal yang bodoh. Sudah seharusnya gw dan dia tetep ber-khusnudzon, seperti sebelumnya juga Tuhan lama ngak mempertemukan kami. Menunggu kami siap untuk dipersatukan, tak sembarang hanya bisa menikah dan menghadirkan anak ke dunia, tapi juga harus bisa dan mampu mengelola rumah tangga yang sehat dan siap didalam mendidik, juga membesarkan anak kelak….

Ayo Sayangku! Tetap semangat!

Kita harus tetap berusaha keras dan semangat dalam bekerja untuk bisa mewujudkan planing-planing kita? He he he…

Buat rekan-rekan yang sudi membaca tulisan ini minta Doa restunya yak…

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: