Skip to content

Masihkah Kau Mencintaiku

Oktober 9, 2009

Gw Cuma mau ngeluarin unek-unek gw aja dalam tulisan ini, setelah seharian duduk ngadepin monitor, tepat dibawah AC, dingin dan berkutat dengan angka-angka yang pastinya bikin mata gw sepet, perih trus jadi berasa ngantuk…

Semalem gw pulang kantor jam 10 malem, sampe kontrakan gw langsung nyalain tipi trus bikin susu, gw ngeliat acara “Masihkah Kau Mencintaiku”. Acara yang aneh buat gw, masalah rumah tangga kok di bawa ke panggung, dibahas ramai-ramai dan segala rahasia di dalamnya diumbar ke khalayak umum serta ditonton jutaan orang di studio maupun diseluruh Indonesia, alhasil banyak cercaan hinaan, cibiran plus support didapat oleh si empunya masalah, bahkan mungkin tidak sedikit dari pemirsapun ikut mengomentarinya pada saat menyaksikan tayangan tersebut.

Gw nggak pernah suka sama acara model kaya begini, termasuk semua acara reality shoow yang nggak ada unsur edukasinya. Gw ngak habis pikir, apa yang ada dibenak para pelaku yang ikut acara “Masihkah Kau Mencintaiku”, suami-istri yang sudah belasan tahun nikah, mempunyai anak, susah, senang, bahagia dan derita pasti sudah mereka lewati dan ketika berbenturan dengan sebuah masalah yang terakumulasi menjadi besar, penyelesaianya harus seperti itu, yaks….ironis sekali kalo menurut gw, apa ngak ada cara lain yang lebih santun dan private untuk menyelesaikanya sekalipun keputusan finalnya adalah pisah dengan segala konsekuensinya..?

Di panggung mereka nyelesaiin masalah rumah tangga sambil saling nyalah-nyalahin satu sama lain. masing-masing keluarga yang juga ikut diboyong ke panggung ikut-ikutan mempertajam masalah, belom lagi Ray Sita Supit, Dian Nitami plus Helmi Yahya dan satu orang psikolog berakting jadi pahlawan juru damai.

Waduh!

Yang nggak abis pikir lagi, kok bisa berantemnya suami-istri jadi komoditi dagangan. Kok bisa masalah rumah tangga diselesaikan di depan panggung dan ditonton banyak orang di studio juga jutaan pemirsa seluruh Indonesia. Gw bener-bener nggak abis pikir, apa para pelaku itu nggak sadar kalo mereka itu cuma jadi barang dagangan?

Apa mereka tau, bilamana itungan 1 jam acara itu ada 6 segmen, berarti ada 7 commercial breakdengan durasi 3-10 menit iklan.

Taroh satu spot iklan itu durasinya 30 detik, kalo acara itu rating dan sharing-nya tinggi, harga satu spot iklan itu bisa berkisar 5 juta sampai 50 juta. Belom lagi pendapatan dari sponsorship yang nilainya jauh lebih tinggi dari iklan, bisa gede banget tuh untungnya.

Itung aja pendapatan tipi tiap acara kalorating dan sharing acara tersebut tinggi, paling nggak puluhan juta, ratusan juta bahkan bisa jadi sampe milyaran rupiah didapat dari satu acara. Memang ada uang jasa dibalik acara ini bagi para pelaku, bagi suami-istri yang ikutan acara”Masihkah Kau Mencintaiku” kemudian mau berdamai, paling nggak dapet 5 juta dari hadiah sponsor plus jalan-jalan ke Bali dengan akomodasi semuanya ditanggung sama sponsor. Tapi apalah artinya ketimbang masalah rumah tangga sendiri dijadiin komoditi dagangan dan jelas-jelas nguntungin banget orang laen?

Bener-bener penerapan hukum ekonomi murni, dengan pengorbanan sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dengan ngorbanin masalah rumah tangga orang laen biar ditonton banyak orang seluruh Indonesia bisa dapet keuntungan yang sebesar-besarnya.

Dunia udah gila apa gw yang berpikirnya kelewat tradisional, apa malah gw yang ngak ngerti sama insting bisnis di dunia broadcast, segala hal bisa jadi duit dengan bikin-bikin acara serampangan tanpa ngeliat edukasi. Kemiskinan orang laen itu bisa dijual dan jadi uang, kesedihan dan kepedihan orang laen itu juga bisa dijadiin uang, semua di dunia ini bisa jadi uang asal kreatif.

Tapi kreatif yang kayak gimana?

Ini masalah etika, masalah aib rumah tangga orang lain yang mana baiknya diselesaikan tertutup oleh orang-orang tertentu yang bisa dipercaya sama pasangan suami-istri yang tengah berkonflik, kok ya malah dijadiin bahan komoditi dagangan.

Sempet juga gw berfikiran negative tentang Helmi Yahya yang jelas-jelas gagal mempertahankan pernikahannya sendiri, kok malah sok-sokan nyatuin pernikahan orang.

Kadang sulit memang menyelaraskan idealisme murni yang ketika dihadepin sama pikiran dan kenyataan akan tetep sejalan dengan idealismenya….

Dari pada pikiran gw ikut-ikutan jadi geblek mending langsung gw ganti aja ke chanel laen sambil ngedumel bilang, kok bisa-bisanya Triwarsana bikin acara gebleg kayak begini ye….

Hidup kok ya dilematis banget…Hikss…

One Comment leave one →
  1. anakbunda permalink
    Maret 30, 2010 6:06 PM

    Emgnya ada stengah orang suka klo hidupnya dipertonton gt.. kn??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: