Skip to content

HARGA DIRI LAKI-LAKI

September 11, 2009

Di jalan waktu gw berangkat ke kantor, gw ngeliat stiker di belakang motor yang tulisannya bener-bener bikin gw ngelamun panjang dan bikin tulisan ini. Stiker motor itu bertuliskan;

“HARGA DIRI LAKI-LAKI ADALAH BEKERJA”

Tulisan yang pendek, sederhana, tapi juga dalem. Jadi keingetan beberapa temen laki-laki yang nggak bekerja padahal udah punya anak-istri. Jadi keingetan juga keluhan istri-istri mereka.

Bekerja, sebenernya apaan sih?

Bukan hal yang rumit, juga bukan hal yang sepele. Bekerja nggak harus di kantor, nggak harus dalam satu instansi. Bekerja yang dimaksut itu mencari nafkah. Dalam mencari nafkah juga nggak perlu satu tempat khusus, bumi ini kelewat luas untuk mencari sumber kehidupan di segala tempat.

Pertanyaannya, seberapa besar penghasilan yang didapat buat mencukupi rumah tangga?

Ini jawaban relatif dan nggak ada yang sama. Ada satu keluarga dengan penghasilan 1 juta rupiah sebulan cukup buat menghidupi istri dan 3 orang anak. Tapi ada juga keluarga dengan penghasilan 100 juta sebulan juga nggak cukup-cukup, selalu saja kurang, padahal anak baru satu.

Ada satu tulisan bagus yang selalu gw inget-inget, bagian yang bertuliskan tebal itu jadi penutup tulisan ini:
______________________________________________________

Ketika Tuhan Berkata Tidak

Ketika aku berdoa,
“Ya Tuhan, ambillah kesombonganku dariku”

Tuhan berkata dalam hatiku,
TIDAK!
Bukan Aku yang mengambilnya, tapi kau sendiri yang harus menyerahkannya.”

Ketika aku berdoa,
“Ya Tuhan, berilah aku kesabaran.”

Tuhan berkata dalam hatiku,
TIDAK!
Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan.
Ketabahan itu tidak diberikan. Kau harus dapat meraihnya sendiri.”

Ketika aku berdoa,
“Ya Tuhan, sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.”

Tuhan berkata dalam hatiku,
TIDAK!
Jiwanya telah sempurna. Tubuhnya hanyalah sementara.

Ketika aku berdoa,
“Ya Tuhan, berilah aku kebahagiaan.”

Tuhan berkata dalam hatiku,
TIDAK!
Manusia hanya Ku-beri keberkahan.
Kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu.”

Ketika aku berdoa,
“Ya Tuhan, jauhkanlah aku dari segala kesusahan.”

Tuhan berkata dalam hatiku,
“TIDAK!
Penderitaan itu justru menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku.”

Ketika aku berdoa,
“Ya Tuhan berilah aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.”

Tuhan berkata dalam hatiku,
“TIDAK!
Kuberi kau kehidupan supaya dapat menikmati segala hal.”

Ketika aku berdoa,
“Ya Tuhan, bantu aku untuk bisa mencintai orang lain, seperti besarnya cinta-Mu padaku.”

Tuhan berkata dalam hatiku,
“…Syukurlah, akhirnya kau mengerti!”

______________________________________________________

Kadang kala kita berpikir bahwa Tuhan tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.

Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.

Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya- tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.

Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek lalu kita melihat tukang es.
Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil).

Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon kepada Tuhan) dan merengek agar dibelikan es. Orang tua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es.

Orang tua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.
Begitu pula dengan Tuhan, segala yang kita minta Tuhan tahu apa yang paling
baik bagi kita.

Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Tuhan mengabulkannya. Karena Tuhan tahu yang terbaik yang kita tidak tahu.

Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari “pilek” dan “demam”…. dengan tetap berikhtiar dan terus berdoa.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: