Skip to content

Bersyukur

Juli 23, 2009

Jalan PanjangSuasana kantor kemarin siang sama seperti hari-hari sebelumnya, bunyi i-phone, telpon dan ringkikan suara printer Epson LQ-1170 Scalable Font sudah menjadi suara yang sangat akrab ditelinga saya, dari beberapa rekan kerja saya diantaranya ada yang seriuse dengan tugas dan tanggung jawabnya, ada juga yang lagi asik browsing, ada juga yang lagi asik update facebooknya, sambil asik ikutan nyanyi mengikuti alunan lagu dari winamp yang memang rutin sedari awal masuk jam kerja sampai waktu pulang terus menyala dikomputer yang ada di mejanya dan itulah beberapa prilaku yang sudah menjadi wajar dan biasa dilingkungan tempat saya bekerja.

Dari beberapa lagu yang sudah biasa saya dengar, ada salah satu lagu yang menyita perhatian saya dikarenakan isi dari lyric dan arasementnya. Dari suara vocal yang khas saya bisa langsung menebak lagu itu dari band D’Masiv yang sejak awal kemunculanya banyak menuai kritik karena dikatan sebagai band yang tidak creative, inovatif dan lain sebagainya. Terlepas dari kontroversi band D’Masiv yang dikatan sebagai band plagiator, saya tetap menyukai dikarenakan isi dari lyric lagunya itu yang mengandung sebuah subtansi pesan yang ingin disampaikan oleh D’Masiv. Ini soal selera Bung…, dan saya termasuk orang yang sulit memanipulasi “selera”, like or this like, saya suka kalau saya memang suka dan saya akan mengatakan tidak suka kalau saya memang tidak suka dan pastinya itu tanpa sebuah kepura-puraan dan tanpa ikut-ikutan.

Singkat cerita setelah mendengar lagu itu saya kembali teringat obrolan ringan dengan sahabat saya beberapa hari yang lalu, obrolan kami mengalir begitu saja hingga waktu juga yang memaksa untuk segera menyudahinya. Dari obrolan beberapa  hari yang lalu itu, ada satu kutipan kalimat yang dikatakan sahabat saya, dia mengatakan “Banyak hal yang memang tidak kita ketahui, tetapi dengan begitu kita dituntut untuk terus berusaha dan mencoba untuk selalu belajar dalam setiap langkah untuk menjadi pribadi yang bijaksana dalam segala hal…

Senja dan Suasana HatiDari perkataanya itu, saya mencoba menjabarkan dan menafsirkanya berdasarkan pemahaman saya. Layaknya seorang manusia yang memang difitrahkan untuk terus berusaha, berusaha, berusaha dan berusaha selanjutnya beriktiar, seperti yang telah ditetapkan Tuhan, bahwa “….Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum itu sehingga mereka sendiri mengubah nasib mereka….” Ungkapan demikian adalah satu Sunnatullah yang telah Allah s.w.t tetapkan untuk hamba-hamba-Nya dan itu bukanlah ungkapan yang tidak lazim dibicarakan, karena semua pasti ada sebab dan akibatnya.

Setiap manusia pasti pernah mengalami keterpurukan, putus asa dan beberapa penyakit hati yang memang sudah lekat bersemayam pada tiap-tiap hati manusia yang terkalahkan oleh dominasi “akal”. Tidak terkecuali saya, karena saya juga pernah mengalami hal seperti itu, ada saatnya juga saya yang notabene seorang laki-laki yang dituntut harus tabah dan tegar menghadapi semua ujian hidup apapun itu, kadang perlu juga untuk menangis (bukanya cengeng ya) tapi saya berkeyakinan bahwa air mata itu bukan hanya milik kaum hawa yang bisa dikeluarkan untuk melegakan semuanya, air mata itu berkah dan air mata bukanlah symbol dari kelemahan dan kecengengan anak manusia (ini menurut saya). dan menangislah saya kalau itu bisa membuat saya lega dengan segala hal kebuntuan yang saya hadapi dalam rintihan di sela-sela doa yang terpanjatkan kepada-Nya, Bukan lantas mengambil handphone lalu mengetik SMS Reg spasi Nama spasi Tanggal Lahir spasi Persoalan Hidup spasi Dukun kirim ke 666, haduh-haduh….bukankah itu adalah suatu bentuk pembodohan yang terpelihara…

Pernah sekali waktu juga saya mengalami keterpurukan mental sebagai seseorang laki-laki yang dituntut harus tegar, tapi bersyukurnya masih ada sahabat saya yang peduli dan paham untuk mau menyemangati saya, hingga pada akhirnya saya mencoba untuk menelusuri “akibat” dari “sebab” yang sudah saya lakukan, dari situ saya mencoba untuk lebih optimis memandang kehidupan yang lebih panjang ke belakang dan panjang kedepan, Adalah benar hari ini diwarnai oleh masa lalu dan adalah benar masa depan adalah buah dari beberapa pilihan yang kita pilih dan lakukan saat ini dan nanti, karena dengan belajar dari sejarah kita bisa memilih warna masa depan sesuai selera kita. Sebuah analogi dari buku “The Balance Ways” mengibaratkan bahwa “Hidup seperti mengendarai sepeda, kita akan terjatuh bila kita berhenti mengayuh!”…yang kalau saya simpulkan bahwa tidak semuanya simple dalam sebuah proses, dan begitupun dengan masa depan cemerlang yang ingin kita raih, butuh action perjuangan panjang dan berliku untuk dapat meraihnya… karena hari ini, esok dan lusa adalah sebuah proses yang harus kita hadapi apapun itu konsekwensinya, banyak memang yang kita tidak ketahui tetapi setidaknya ada sebagian juga yang kita ketahui dari perjalanan sejarah hidup yang sudah kita lewati, tidak ada istilah produk gagal pada sesuatu yang diciptakan-Nya, hanya akal-lah yang mengatakan ketidak sempurnaan apa yang terlihat secara fisik dan menutup hakikat maksud dari tujuan penciptaan-Nya. mengutip ucapan dari syaidina Ali r.a :

Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta.”

Penting rasanya untuk share dengan seseorang, dengan sambil terus bersemangat dan berusaha seperti sepenggal lyric lagu dari dmasiv “…Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugerah, Tetap jalani hidup ini, Melakukan yang terbaik…

Jangan menyerah dan teruslah berusaha…

==================================================================

Tulisan lain yang mungkin terkait dengan tulisan di atas:

  1. Doa jiwa  yang kering
  2. Mengapa Aku Ada?
  3. Hakikat Hidup
  4. TransTV:Sebuah Manifestasi Cinta dan Rindu dari D’Masiv
  5. Marhaban Tahun Baru 1430 H

==================================================================

5 Komentar leave one →
  1. Juli 24, 2009 2:24 PM

    yup, hidup adalah proses..
    kita dilahirkan untuk bergulir..
    salam kenal

    • Juli 29, 2009 11:53 AM

      Ya, proses perjalanan untuk menggapai tujuan yang telah dijanjikan-Nya yang juga membutuhkan waktu untuk “Berheti Sejenak“. Salam kenal…Terimakasih Mas, sudah berkunjung.

  2. Anonim permalink
    Juli 31, 2009 3:21 PM

    ini dia asyiknya mendengar tanggapan positif dr kehidupan..
    intinya tergantung dr kita..
    kalau syukur terucap, semuanya menjadi lbh mudah.. =)

    salam kenal,
    classically

  3. Juli 31, 2009 3:22 PM

    ini dia asyiknya mendengar tanggapan positif dr kehidupan..
    intinya tergantung dr kita..
    kalau syukur terucap, semuanya menjadi lbh mudah.. =)

    salam kenal,
    classically

    • Juli 31, 2009 5:00 PM

      Ya, seharusnya memang demikian..
      Mengutip tulisan A.Hirata dalam salah satu tetraloginya
      “Jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu dan pd titik akhir hasilnya masih nihil”; maka sebenarnya kita telah menemukan apa yg kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yg harus dihadapi, sepahit apapun keadaannya…

      So…bersyukur dan syukurilah hidup ini…
      Terimakasih sudah berkunjung, salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: