Skip to content

Doa jiwa yang kering

Maret 26, 2009

“Bila malam yang sunyi menghampirimu,

Tanyakan, masih adakah benih – benih

Kemusliman di pelataran batin-Mu…

Bila pagi yang tak’ berkabut menyapamu,

Tanyakan, masih adakah bunga – bunga

Keimanan bermekaran di relung jiwa-Mu…”

Ketika kebingungan menguasai dasar relung jiwa-Mu yang terdalam dan ketika kegelisahan sesak memenuhi syaraf – syaraf indramu yang sangat kau banggakan dan ketika itu juga ketakutan serta kegelisahan mengalir deras dalam darah dan nadi bak riam dalam arus jeram yang memacu cepat jantung melampaui batas ketentuan…dan pada saat – saat tersulitpun masih harus di hadapkan dengan sesuatu yang sulit untuk menentukannya, saat hanya ada dua pilihan yang harus dipilih salah satunya, tanpa kompromi dan harus memilihnya apa-pun konsekwensinya, disaat kebijaksanaan, kearifan dan fikiran jernih hilang seiring dengan bertambahnya larut malam dalam keheningan dan kesunyian yang pekat…

Hanya kepada-Mu lah aku kembalikan dan meminta petunjuk serta rahmat wahai pemberi kegembiraan dan ketenangan.

Ya Rabb,

jika ini memang skenario atau ketetapan untuk-ku, aku bermohon dan bersimpuh kepada-Mu kembalikanlah aku kepada jalan-Mu, kepada apa yang engkau ridhai dan rahmati, hingga ku dapatkan kembali rahmat-Mu.

Sesungguhnya sebagai seorang insan yang tidak terlepas dari khilaf dan alfa, selalu kurindukan ketenangan dan kesejukan hati yang ku ketahui benar tak’kan ku dapatkan itu semua tanpa rahmat dan ridha-Mu.

Ya Rabb,

sesungguhnya engkau yang maha rahman dan rahim, jauh di dalam lubuk hati, selalu ku bertanya dalam kegelisahan yang mendalam…, sampai kapankah aku harus menjalani hidup yang pekat akan dosa–dosa besar, khilaf dan kealfaan–kealfaan yang aku perbuat dan lakukan berulang kali yang sebenarnya aku mengetahui itu salah bahkan nista untuk di lakukan oleh orang yang mengerti.

Ya Rabb,

jika ini-pun sebuah fase ujian yang harus aku jalani, aku ikhlas dalam menjalaninya. Harap-ku jangan biarkan aku semakin jauh dari-Mu terjerambab dalam hitam pekat yang menjadikan tabir pemisah antara aku dan Engkau, karena sesungguhnya aku tak pantas akan surga-MU namun aku tak’ kuat dan sanggup akan siksa neraka-Mu…

“Rabbana la tujigh qulubana ba’daiz hadaitana Wa hablana min ladunka   rahmah Innaka anta al wahhab. Rabbana atina fiddunya hasanah Wa filakhirati hasanah waqina ‘azab an naar.”

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: