“Tuhan” Bukan Untuk Kata Makian
Setiap terbangun di pagi hari, pasti selalu ada yang tersusun di benak ini, akan ke mana hari ini atau mau melakukan apa hari ini. Melakukan sesuatu, beraktivitas dan pergi keluar rumah. Menyusuri waktu dan mengisinya dengan hal-hal berguna. Pergi ke kantor bagi karyawan, pergi ke kampus atau ke sekolah bagi pelajar, pergi ke pasar bagi ibu rumah tangga dan pergi terus mencari peluang-peluang yang baik bagi yang belum berpenghasilan.
Tapi pernah terpikir tidak, dalam suatu pagi terbangun tanpa rancangan dan susunan rencana?
Bangun pagi bingung mau berbuat apa karena tak ada yang bisa dilakukan. Tatapan mata yang kosong, menatap hari yang terus bergulir sampai ujung waktu, menjalani tanpa ekspresi, tanpa pikiran sehat dan mengisi ujung jalan dan gang dengan kebingungan, kegiatan hari ini mau diisi dengan apa.
Bingung…!!
Sampai ada yang menghampiri, mengulurkan tangan padanya untuk dijadikan orang yang berguna. Diajari segala kebaikan dalam format agama. Apapun adanya, segala kebaikan itu harus berguna bagi orang banyak, tak hanya kebaikan dalam sudut pandang sendiri, golongan apalagi pribadi. Yang ada ketika ada kebathilan terpampang dengan gamblang di muka bumi, semuanya diperangi. Tanpa kompromi dibabat habis atas nama kebenaran dan agama. Berteriak lantang dengan menyebut nama “Tuhan” lantas memukul orang, membakar tempat, bahkan sampai membunuh jiwa-jiwa yang masih kebingungan dengan kehidupan di dalam masa yang seperti ini.
Apa bedanya dengan kalimat geram yang dilontarkan saat melakukan itu? Seperti satu perkelahian di mana sebelum memukul harus mengeluarkan kalimat makian, umpatan kotor.
“Anjing!”
“Setan!”
“Bangsat!”
“Mampus!”
“Kont***!” (Sensor!)
“Ngent***!” (Sensor!)
Dan sebagainya, sebagainya dan sebagainya, lantas aksi itu dilakukan. Memukul, menghantam, menganiaya, membakar tempat, membunuh banyak jiwa, seolah kebenaran hanya ada dalam dirinya sendiri tanpa kompromi, tanpa memperhatikan bahwa orang yang jadi objek penderita itu juga masih kebingungan dalam kelabilan menghadapi hidup di jaman sekarang yang serba membingungkan antara yang baik dan tidak baik, antara yang halal dan yang haram.
* * * * *
Dalam satu riwayat dikisahkan ada seorang murid dari sebuah pesantren, satu ketika ia berubah total, di kesehariannya ia berganti kostum selalu memakai baju hitam padahal seragam pesantren itu adalah baju putih sebagai simbol kesucian. Hari-hari dilewati dengan menunduk diam dan tak banyak bicara.
Sampai ada salah seorang temannya yang peduli, menanyakannya.
“Kamu ini ada apa? Hari-harimu diam dan murung, udah gitu kenapa jadi berpakaian hitam terus? Kamu tau nggak kalo seragam pesantren kita itu putih? Nanti kalo diomelin sama Kyai kita gimana? Kenapa sih? Kalo ada apa-apa cerita aja, aku kan sahabatmu, sapa tau aku bisa bantu kamu…”
“Nggak ada apa-apa, saya hanya sedang sedih, saya sedang berkabung…”
“Innalillahi wa inna illaihi roji’un! Siapa yang meninggal? Siapa?”
“Bukan siapa-siapa yang meninggal, kamu pasti nggak mau tau siapa yang meninggal…”
“Eh, kita ini Muslim, sebagai Muslim kita ini bersaudara dan sudah sewajarnya kita sebagai sesama Muslim harus saling bantu-membantu dalam kebaikan. Siapa yang meninggal? Aku harus tau dong!”
“Itu… Tuhanku yang meninggal…”
“Astaghfirullah al adzim! Murtad kamu!”
Dan si teman itu berlalu meninggalkan murid yang masih terdiam dan tertunduk sedih. Teman itu mengadukan pada Kyainya perihal kemurtadan teman itu. Kyai itu langsung memanggil muridnya itu dan disidang, lalu ditanyakannya.
“Saya dengar kamu mengatakan tuhan kamu sudah meninggal. Kamu tau resikonya menjadi murtad dengan perkataan itu?”
“Saya tau Kyai, saya sadar atas apa yang saya ucapkan. Saya juga siap menerima resiko atas apa yang saya ucapkan…”
Atas dasar hukum yang berlaku, si murid dikubur sebatas kepala dan siap untuk dihukum dirajam, dihadiri oleh semua murid di pesantren itu. Namun sebelum hukuman dilaksanakan, Kyai yang berusaha menyelami pikiran muridnya, menanyakan lagi atas perkataan itu.
“Sebelum hukuman dilaksanakan, saya ingin bertanya pada kamu dan permintaan kamu terakhir kali. Apa maksud kamu mengatakan tuhan itu sudah mati? Apa benar menurutmu Tuhan itu sudah mati? Sebenarnya siapa Tuhan kamu? Apa permintaan terakhirmu sebelum hukuman ini dilaksanakan?”
“Benar Kyai. Tuhan saya sudah mati. Selama ini saya salah memilih Tuhan dan tuhan yang saya sembah itu sudah mati. Saya tak ada permintaan apa-apa. Silahkan bila Kyai ingin menghukum. Saya ikhlas, saya rela…”
Kyai itu menggeleng-gelengkan kepala. Ada geram karena ilmu yang diajarkannya tak masuk ke otak dan hati murid ini. Kyai berkata pada muridnya sebelum hukuman dilaksanakan.
“Sekarang! Sebutkan kalimat Ilahiyah sebelum hukuman ini dijalankan untuk memudahkan kematianmu! Lancang sekali kamu mengatakan Tuhan sudah mati! Siapa sebenarnya Tuhan kamu!”
“Tuhan yang saya sembah selama ini bukan Allah SWT, tapi selama ini saya selalu menyembah benci, iri dan dengki. Segala kehasutan, pengkhianatan dan kebenaran atas dasar subyektifitas pribadi itu yang selalu saya sembah. Tuhan-tuhan saya itu sekarang sudah mati. Asyhadu alla illaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah…”
Batu-batu yang dipegang oleh para guru dan murid di pesantren itu, yang sekiranya siap dilontarkan untuk murid yang dianggap murtad terjatuh lunglai dari tangan mereka, air mata menetes membasahi pipi. Si Kyai mengangkat muridnya yang terkubur sebatas kepala lalu memeluknya erat, menciumnya.
“Terima kasih ya Allah, sudah memberikan kami pelajaran yang sangat berharga di pagi ini…”
* * * * *
Susahnya hidup di dunia yang serba semu ini. Segala sesuatu didasarkan kebenaran atas subyektifitas pribadi. Kehidupan yang kibriya, kehidupan yang tak mengenal batas antara halal dan haram menjadi sulit untuk dipilih.
Ya Tuhan, berikanlah kami selalu hal-hal yang terbaik, meski kami teramat sering menjauhi-Mu, membuang-Mu dalam kata-kata makian kami, menjadikan-Mu simbol-simbol belaka dalam kehidupan. Dekatkan hati kami dengan-Mu ya Tuhan…Amien…











subhanallah .>>.